Powered By Blogger

Rabu, 11 Februari 2009

PKL

Pedagang Kaki Lima : Antara Tertindas dan Penyokong Perekonomian

Pedagang kaki lima merupakan potret kehidupan bangsa Indonesia . Mereka menggambarkan perjuangan hidup mencari sesuap nasi di tengah hiruk pikuk kehidupan yang semakin sulit.Pekerjaan di bidang PKL (Pedagang Kaki Lima) menyerap banyak tenaga kerja. PKL jelas tidak membutuhkan tingkat pendidikan atau keterampilan tertentu, ini berarti pekerjaan ini bisa digeluti oleh banyak orang.Ini menjadi alternatif untuk menyerap angkatan kerja yang ada. Kalau melihat fenomena yang ada di kota-kota, PKL ini banyak yang berasal dari desa, hal ini dapat disebabkan oleh factor semakin banyaknya terjadi konversi lahan pertanian yang menyebabkan petani kehilangan pekerjaannya. Dengan kemampuan terbatas yang dimiliki mereka melihat ada peluang disektor informal yang satu ini. Permasalahan mulai timbul pada saat PKL mulai dianggap menganggu ketertiban umum dan keindahan kota . Mereka dikejar-kejar, dagangannya dirusak, lebih apes lagi kalau mereka berhadapan dengan satpol PP yang kurang ramah, mungkin saja tindak kekerasan terhadap mereka terjadi. Sungguh malang nasib mereka, demi menciptakan image kota yang bersih, demi penghargaan adipura atau sejenisnya ,mereka dicampakkan. Sebenarnya kita mesti berkaca dan melihat sudah dimanakah posisi bangsa Indonesia . Kita belum berada pada posisi mapan. Kita masih mencoba menguatkan posisi berdiri bangsa, dan masyarakat adalah pondasi untuk menguatkan posisi bangsa. Indonesia masih didominasi oleh kalangan menengah kebawah. Ini fakta yang membuat kita mesti sadar, tidak perlu kesejahteraan masyarakat itu dipaksakan untuk terlihat, tapi biarlah kesejahteraan itu dibangun dari dalam. Di analogkan ke PKL, ini menjadi lahan untuk hidup masyarakat miskin, jangan hanya memikirkan membersihkan dan mencampakkan mereka. Tapi diarahkan ke kondisi yang lebih baik. Kalau mau memindahkan lokasi PKL, mereka harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan tempat baru tersebut. Jangan hanya aparat saja yang memutuskan. Satu hal yang pasti PKL itu bukan maling yang mesti di buru, mereka adalah gambaran nyata kehidupan di negeri ini.
Oleh : Monsaputra, SP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar